Entri Populer
-
Bincang Metafora Mahoni dan Mushola Hikayat alam terberai di tiap lapak, merayap dari tiap pijakan jejak , dari bingkai suka dan duka terla...
-
:: BELAIAN DUA JEMARI 'PART III' :: Belum sempat menanyakan kejelasannya, dering telepon berbunyi, dan resepsionis memberi kode ...
-
Rindu memuncak rasa Mengundang mahligai asa Mendulang di telaga lara Mengapung di samudra kuasa Pada pendaranMu titah terarungi Derai...
-
Warta Anila Pada Buana### Mamiri menutur [22:22--24/02/2012] Anila mahabbahMu sarat manikam maknawi rentasan siang malamMu senja gaul...
Minggu, 26 Februari 2012
Bincang Metafora
Bincang Metafora Mahoni dan Mushola
Hikayat alam terberai di tiap lapak, merayap dari tiap pijakan jejak , dari bingkai suka dan duka terlafaskan. Setitik menahan isak tangis getah reranting yang mulai menunduk. Tiba-tiba angin dan petir membantah untuk menyudahi tetesan tangis reranting mahoni.
Gigir waktu menyisir almanat hari, mengikis bait-bait nostalgia dahan mahoni dan Mushola tua, tegak mahoni menghadap angkasa, darah cambium masih mengalir harmoni di setiap celah pikiran, itulah mahoni yang terkanvas di jelaga alam raya. Mungkin ada suatu saat, manusia tua enggan menyapa ketika mereka melintas di sisi mahoni ini.
Namun, sebelum itu. manusia muda, anak-anak, mereka sangat akrab dengan nuansa yang telah terkubur.
Erlangga dan Dina berlarian di bawah rerindang mahoni, tak berapa lama berdatangan mahasiswa tekhnik yang lainnya, membentuk lingkaran di bawah cungkup bangunan mushola, dan di kelilingi pohon mahoni, sedikit memberi kesujukan, dan menghindari dari jilatan mentari siang itu.
Tiap jedah siang menanti adzan dhuhur mushola itu mulai ramai dengan jejak langkah anak-anak yang hendak sholat berjama’ah dan belajar mengaji bersama seorang ustad yang sudah di tentukan pihak kampus, mengisi waktu senggang usai sholat duhur dan menanti jam belajar di mulai, tak terkecuali masing-masing angkatan. Pintu mushola, hamparan sajadah, reranting mahoni, sangat hafal wajah mahasiswa, tak tertinggal anak-anak dari warga kampung dekat mushopla itu memenuhi ruang mengaji di mushola itu. Selain mengaji mereka yang usia remaja mengkaji ilmu-ilmu agama, seakan mengalirkan kejernihan lautan ilmu yang telah lama ternoda.
Jika suasana senggang, Erlangga ketua Senat fakultas Arsitektur, dan Sekertaris BEM Universitas Dina Triastanti, sempatkan diri merawat mushola dan pekarangan, di bantu anggota HMI yang lainnya mempercantik taman, dengan memangkas reranting mahoni yang tidak teratur tumbuhnya.
“Ternyata ke akrapan kita dengan alam, membangkitkan rasa syukur pada sang Pencipta ya..?”ucap Dina pada Erlangga suatu siang saat mereka menunggu teman-teman yang lain hadir dalam rapat pembentukan RAD dan ADRT HMI.
“Yah.., begitulah, sama dengan kita…?”
“Kok kita mas…?”
“Iya kan…, saat kita merawat rasa cinta, rasa persahabatan, rasa ukhuwah, maka membangkitkan rasa syukur Pada sang Khaliq, Alangkah agung-Nya memberi akal, dan memberi pedoman hidup Al-Qur’an danm As-Sunnah”
“hemm…., mulai dech.., ngerayu.., uhuiii”
Waktu beranjak, hari berganti, tahun pun bergerak. Mahasiswa pun dari semester ke semester hantarkan mereka ke jenjang wisuda, tak terlepas Erlangga dan Dina Triastanti, beranjak dari setiap waktu, Mushola dan taman mahoni mereka tinggalkan, demi melanjutkan cita dan cinta mereka di era globalisasi.
Dinamika hari berterbangan di cakrawala dimensi, alam menghantar pada perubahan. Tak ada lagi jejak langkah Mahasiswa, jeritan ikhwan membaca Al-Qur’an, gemerisik air wudhu yang berirama dari arah Mushola sebagai siraman akar-akar mahoni tak mengalir lagi. Bersimbab derita reranting mahoni, sedih sajadah mushola yang merindukan pijakan lembut ‘pemakmur’ kalimat Allah, kini telah berhamburan debu, kusam kaca-kaca jendela, rapuh akar pepohonan mahoni, sebab tak pernah meminuh air sejuk yang tertetes dari wudhu sang pemakmur Kalamullah.
“ Akar-akarku sudah mulai rapuh dimakan usia. Mungkin dalam hitungan detik akansegera musnah dijilat bau-bau limbah pabrik , amis sisa kencing pengunjung diskotik yang mulai menjamur” keluh dedaunan mahoni pada kubah mushola
“Sajadahku, mimbarku hanya menjadi barang pajangan, AlQur’an di lemari ini pun hanya hiasan pelengkap, mungkin ini yang dinamakan ISLAM MODERN”balas keluh mushola pada suatu malam
“Mengapa manusia teramat bodoh, terbuai temaram bumi yang hanya semu ini”bisik anila malam
***
“Besok Mushola ini kita singkirkan saja, Pak. Biar kita dirikan gudang besar untuk menyimpan barang-barang bekas kampus”ucap Satpam pada seorang dosen yang berdiri dengan muka bengis melihat keadaan mushola, dan rimbunnya mahoni yang tak tertata lagi
Nampak kobaran anala amurka meluap-luap dari celah dahan mahoni mendengar rencana perubahan itu. Rasa tidak terima akan hal itu sangat membalut di seluruh sanubari reranting. Begitu pun dinding-dinding mushola memelas sedih, namun tak kuasa menyingkirkan pekatnya debu agar membuat tampilannya menjadi asri, kodrat sang Mushola dan Mahoni sebatas titipan_Nya di pendaran edar bumi.
Manja angin bermain mendayu
intari hari bergantungan mimpi
gigir waktu beranjak meranggas
ngarai usia tersisir edaran zaman
harus melepas mengalir tanpa amurka
adalah nyata titian titah Sang KhaliQ
Pelipur sayang membisik anila
hadirmu dalam remasan jemari waktu
mengahasilkan kisah cinta dan kisah duka
antara nyata dan fatamorgana, membilang bilanganMu
makhluk ada dan mengarunginya
Harus melupakan, terlupa
jubah malam memikat pekat
dentum halilintar merintih lirih
munajat padaMu hamparkan cita
Lerai renda helai demi helai
motif dewanggi indah menanti
kelabat bayang memadu fana
dimana cinta harus memeluk, saying
dari apa ketentuan sang KhaliQ
***
Harapan mahoni merayap bersama hembusan angin senja, memangkas hari yang kian berlari,
Keluh dedebuan di lantai mushola tak terdengar, kalah oleh dentuman music diskotik, rintih kenikmatan perempuan malam, tersingkirkan oleh kemilau mimpi insane di peradaban modern, terkubur dari globalisasi salah arah. Beranda Mushola penuh sesak akan carut-marut daun kering mahoni yang berguguran, yang tiap harinya hinggap menyentuh bumi. Mereka berkeluh kesah melihat tidak ada lagi warna Islam yang hadir pada Mushola yang dulu di Agungkan oleh Erlangga dan Dina, mungkin telah terkubur bersama cerita zaman.
“Rinduku padamu Erlangga”bisik Mimbar di mushola
“Dina…, Dina muda kemanakah lentik jemarimu di generasi ini”tangis reranting mahoni yang akan di tebang esok
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar