Entri Populer

Minggu, 26 Februari 2012

:: BELAIAN DUA JEMARI 'PART III' ::


:: BELAIAN DUA JEMARI 'PART III' ::
Belum sempat menanyakan kejelasannya, dering telepon berbunyi, dan resepsionis memberi kode telepon di tujukan ke saya, saya pun beranjak untuk menerima di ruang kerjaku.
“Mas, bagaimana kerja hari ini..?” “Cantik, akhir-akhir ini kamu begitu sibuk.” Aku membalas telepon Laura.
“Ya. Dalam dua hari ini saya harus sudah selesai memeriksa dan memberikan persetujuan pada calon costoumer”
“Wow…..? property apa lagi nich…?” 
“Bukan poperti, tapi peresmian galeri “
“Oya, Besok aku tugas ke daerah. Palopo !” jelasku, sebagai alasan memberi ruang buat saya dan Aryanti, selama di makassar.
“Oke, tak masalah. Kok mendadak? Berapa hari?”
“Baru kudapat surat tugasnya tadi siang. Sekarang aku harus mengambil tiket sendiri ke agen. Sekitar dua hari, tergantung bagaimana kondisi network di sana.” “Ya.., tapi hari minggu sudah di Makassar kan.?.”
“Saya usahakan, soalnya saya dapat undangan peresmian di galeri Balada.?”
“Saya tunggu deh…”

****

Seremoni di mulai, pesta kembang api memenihi ruang geleri, dan di atas panggungSanjaya berorasi terbentuknya Galeri ini, saya mengambil kursi di sudut remang bersama Aryanti dan temannya, tawa renyah aryanti menyemikan rasa cinta, berpeluk bayang kami, mengulas jejak dua hari berlalu di kota angin mamiri ini, tak terlihat lelah di raut wajah Aryanti, selama dua hari kami kelilingi kota Makassar.

Senja baru saja lenyap dan di atas panggung nampak wajah tak asing, Laura menuju podium, membacakan lembaran sambutan, menjelaskan dia sebagai pemilik Galeri Balada.

Laura telah mengemas suasana menjadi begitu etnik. Kulihat dinding teras galeri mungil itu dibuat dengan batu paras. BergayaArt dico rancanganku, Lantai batu alam membuat kesan natural lebih mendalam. Cahaya lampu sorot yang menyiram beranda langsung memperlihatkan wajahku, sehinggaLaura yang seperti telah kuduga sebelumnya, anggun dengan rambut terurai dan mengenakan kain kebaya ‘bodo’ khas Makassar, menoleh ke arahku. Senyumnya merekah. Aku melihat matanya berbinar

“Oke, teman-teman, para undangan dan wartawan, kekasih yang kutunggu ternyata sudah ada dari tadi disini, namun saya tak melihatnya, hamper saya menunda sambutanku, namun sangat cekatannya operator lampu sorot menemukan kekasih dan sahabatku. Sebab tanpa dia mungkin galeri ini saya akan buka secara simbolis, dengan hadirnya Mas Bayu Pratama saya akan buka rahasia, mengapa saya memilih nama Balada.., untuk itu dengan hormat mas Bayu untuk berdiri di samping saya.”

Aku agak kikuk, namun senyum Aryanti meleburkan resahku, dengan pelukan yang begitu mesra Aryanti berbisik
“Percaya kekuatan cinta kita sayang…., biarkan laura sebatas imaji menjadi milik mas Bayu, kenyataannya Mas tetap memilih saya kan..?”pesan Aryanti.

Sampai di panggung, Laura mengamit tanganku tidak merasa sungkan mencium bibirku. Dan entah kenapa, para wartawan itu begitu gemar dengan hal-hal yang berlangsung sebentar tetapi berdesir. Mereka memotret. Sejenak mataku silau.
Namun ketika pelukan Laura lepas dan aku mencoba mengitarkan pandangan, di antara pengunjung tak terlihat Aryanti di meja yang tadi saya duduki, masih terpengaruh oleh kilat lampu blitz, saya meninggalkan panggung, Laura yang cekatan dan mengusaikeadaan panggung melanjutkan pidatonya, kian menjengkelkan suasana hatiku.

Aryanti berdiri di tepian kolam, dengan tetes Kristal bening di mata wajahnya kian menunduk.

Didalam ruangan terdengar Laura berbicara “Nama Balada Galeri ini saya ambil dari singkatan ‘BAYU PRATAMA DAN LAURA DARMAWAN’ “ sorak hadirin pun semakin riuh, kian mengguncang pertahanan kesabaran Aryanti.
“Yanti…” aku memanggil. Namun sunyi, Aryanti meninggalkan kolam itu dan berlari diantara taman yang gelap.

Suara Laura kian sayup, detak tangis Aryanti semakin kurasakan, namun…, dimanakah dia…?

::::::::::::::::::::::::::::::
MK_Mamiri 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar