Graha Revolusi Putih
Entri Populer
-
Bincang Metafora Mahoni dan Mushola Hikayat alam terberai di tiap lapak, merayap dari tiap pijakan jejak , dari bingkai suka dan duka terla...
-
:: BELAIAN DUA JEMARI 'PART III' :: Belum sempat menanyakan kejelasannya, dering telepon berbunyi, dan resepsionis memberi kode ...
-
Rindu memuncak rasa Mengundang mahligai asa Mendulang di telaga lara Mengapung di samudra kuasa Pada pendaranMu titah terarungi Derai...
-
Warta Anila Pada Buana### Mamiri menutur [22:22--24/02/2012] Anila mahabbahMu sarat manikam maknawi rentasan siang malamMu senja gaul...
Minggu, 26 Februari 2012
Rindu memuncak rasa
Mengundang mahligai asa
Mendulang di telaga lara
Mengapung di samudra kuasa
Pada pendaranMu titah terarungi
Derai angin membelai amurka
Pada gegurat hati tereja
Semua cerita terlahirkan nyata
Walau sebatas kerjapan kerlip
Tersisih nuansa oleh dinamika tari
Eja sejenak manhaj nan Agung
Tak tersalah apa yang terkembang
Ada maksudMu di sebalik lara
Tersimpan manis di laci MasyharMu
Kemana diri akan bertanya, padaMu
**
Saga Cakrawala
Semburat saga sebentar hadir
Berpijar di sebalik ufuk merona
Kibas sejuk embun hijab ancala
Tertatih pijak menderap
Menyambut gumpalan imaji yang tersisa
Tertinggal sepenggal roncean mimpi
Sayap malam perlahan memudar
Lengking menggema anjuran sayang-Mu
::: Roncean Mimpi
Berpijar di sebalik ufuk merona
Kibas sejuk embun hijab ancala
Tertatih pijak menderap
Menyambut gumpalan imaji yang tersisa
Tertinggal sepenggal roncean mimpi
Sayap malam perlahan memudar
Lengking menggema anjuran sayang-Mu
::: Roncean Mimpi
KOLABORASI SUNYI
Bilamana cinta bertahta muliya,
bila rasa membias kemurnian cinta,
~
Mencintai seseorang sungguhlah bermakna,
Dicintai seseorang menggugah rasa...
Dicintai oleh orang yang kau cintai sungguh istimewa...
Tapi. . !
dicintai oleh Sang Pencinta adalah segalanya
:::::::::::::::::::::
:::::::::::::::::::::
Kolaborasi Sunyi :> 12:27 - 02/22/2012
** Senandung Buat Ilalang Sunyi
** Nyi Kembang Abang ....
~ Waruga Menuju Baruga-Mu ~
*
Anila berbisik
"Bukan jawara hembusanku"
sebatas sepoi di pendaran
membilang dari titah sang Agung
khitmat di sebalik panas anala semesta
membilang dari rencanaMu di altar kasih
meranggas cemeti langit di sebalik rinai
**
Waruga yang menjerambab lara
terukir di arca kubus penantian
laksana....
terpa luka berbiduk nestapa
menggema pekik camar merisau nadir
panas melebam sukma
tirta netra mengalir seba
menukil genangan yang memecah sunyi
CengkramMu
masih ku berdiri di timpang jalan
merangkak dari lagu ilalang
merebah kan remuk hati, di altar doa
***
Waruga tak bernisan
kelam mengguntur imaji
kamboja sambut sayap gagak
bak pias hasrat bercumbu
Graha nurani menjelaga
mengetuk baruga rasa
kalam dirgantara menutur
hias titah perjamuan aswana
tersekat di bantalaMu
di halte waruga insani jiwa melayang
remuk redam jumawa atma di raga
kidung persekutuan senandungkan do'a
Bertengger moksa selaksa nirwana
mega berarak singkap mendung rejana
selasih kasihMu hamparan sabana
ilalang bebunga anyelir kresnapaksa pun sirna
****
Anila rasa rebana jiwa
terka menadah marka kan warta
jumantara rima merimbun runduk
seba bepinang lukisan kusam
sangsai hari peranak sunyi
Mengkiblat nurani jelujur nadi
sulang aksara jemawan manna
takzim dari rinjani kalbu
laku picu menoktah tuju
Hiba pintaku matra pepuja
Sang Hyang batara sanggulkan netra
pada papah jiwa kusam nya kembang
menari di antara rima perih
menunduk perdu memayung laku
::::::::::::
===========================
[23:101]
Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.
—
bila rasa membias kemurnian cinta,
~
Mencintai seseorang sungguhlah bermakna,
Dicintai seseorang menggugah rasa...
Dicintai oleh orang yang kau cintai sungguh istimewa...
Tapi. . !
dicintai oleh Sang Pencinta adalah segalanya
:::::::::::::::::::::
:::::::::::::::::::::
Kolaborasi Sunyi :> 12:27 - 02/22/2012
** Senandung Buat Ilalang Sunyi
** Nyi Kembang Abang ....
~ Waruga Menuju Baruga-Mu ~
*
Anila berbisik
"Bukan jawara hembusanku"
sebatas sepoi di pendaran
membilang dari titah sang Agung
khitmat di sebalik panas anala semesta
membilang dari rencanaMu di altar kasih
meranggas cemeti langit di sebalik rinai
**
Waruga yang menjerambab lara
terukir di arca kubus penantian
laksana....
terpa luka berbiduk nestapa
menggema pekik camar merisau nadir
panas melebam sukma
tirta netra mengalir seba
menukil genangan yang memecah sunyi
CengkramMu
masih ku berdiri di timpang jalan
merangkak dari lagu ilalang
merebah kan remuk hati, di altar doa
***
Waruga tak bernisan
kelam mengguntur imaji
kamboja sambut sayap gagak
bak pias hasrat bercumbu
Graha nurani menjelaga
mengetuk baruga rasa
kalam dirgantara menutur
hias titah perjamuan aswana
tersekat di bantalaMu
di halte waruga insani jiwa melayang
remuk redam jumawa atma di raga
kidung persekutuan senandungkan do'a
Bertengger moksa selaksa nirwana
mega berarak singkap mendung rejana
selasih kasihMu hamparan sabana
ilalang bebunga anyelir kresnapaksa pun sirna
****
Anila rasa rebana jiwa
terka menadah marka kan warta
jumantara rima merimbun runduk
seba bepinang lukisan kusam
sangsai hari peranak sunyi
Mengkiblat nurani jelujur nadi
sulang aksara jemawan manna
takzim dari rinjani kalbu
laku picu menoktah tuju
Hiba pintaku matra pepuja
Sang Hyang batara sanggulkan netra
pada papah jiwa kusam nya kembang
menari di antara rima perih
menunduk perdu memayung laku
::::::::::::
===========================
[23:101]
Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.
warta anila
Warta Anila Pada Buana###
Mamiri menutur [22:22--24/02/2012]
Anila mahabbahMu
sarat manikam maknawi
rentasan siang malamMu
senja gauli nalar penafsir
segama mimpi laut dan rimba
Romansa bermadah kasihMu
buncahkan pias asmaraloka
anala berkobar di sekam resah
bakar hasrat ber-arang maksud
"ini bukan sajak cinta.., sayang"
mengapa aku harus katakan sayang
sebab padaMu anala bertutur
padaMu mutasi sayang berundak
Hadirkan dian di remang netra, sebab
redup suar di samudra gelap, sayang
hanya pecah ombak yang terdengar
Dentuman sebalik riak ombakMu
tentang nirwana menggulung
puaskan jiwa sahaya terlunta
munajat mahabbah berkalung asa
Tiba di dermagaMu
sauh terulur samapan tertambat
anila pantai semilir, kias masharMu
ancalakan mimpi saksi sejati
temani diri mengetuk nirwanaMu
di buana warta anila ini bersemilir........
Mamiri menutur [22:22--24/02/2012]
Anila mahabbahMu
sarat manikam maknawi
rentasan siang malamMu
senja gauli nalar penafsir
segama mimpi laut dan rimba
Romansa bermadah kasihMu
buncahkan pias asmaraloka
anala berkobar di sekam resah
bakar hasrat ber-arang maksud
"ini bukan sajak cinta.., sayang"
mengapa aku harus katakan sayang
sebab padaMu anala bertutur
padaMu mutasi sayang berundak
Hadirkan dian di remang netra, sebab
redup suar di samudra gelap, sayang
hanya pecah ombak yang terdengar
Dentuman sebalik riak ombakMu
tentang nirwana menggulung
puaskan jiwa sahaya terlunta
munajat mahabbah berkalung asa
Tiba di dermagaMu
sauh terulur samapan tertambat
anila pantai semilir, kias masharMu
ancalakan mimpi saksi sejati
temani diri mengetuk nirwanaMu
di buana warta anila ini bersemilir........
:: BELAIAN DUA JEMARI 'PART III' ::
:: BELAIAN DUA JEMARI 'PART III' ::
Belum sempat menanyakan kejelasannya, dering telepon berbunyi, dan resepsionis memberi kode telepon di tujukan ke saya, saya pun beranjak untuk menerima di ruang kerjaku.
“Mas, bagaimana kerja hari ini..?” “Cantik, akhir-akhir ini kamu begitu sibuk.” Aku membalas telepon Laura.
“Ya. Dalam dua hari ini saya harus sudah selesai memeriksa dan memberikan persetujuan pada calon costoumer”
“Wow…..? property apa lagi nich…?”
“Bukan poperti, tapi peresmian galeri “
“Oya, Besok aku tugas ke daerah. Palopo !” jelasku, sebagai alasan memberi ruang buat saya dan Aryanti, selama di makassar.
“Oke, tak masalah. Kok mendadak? Berapa hari?”
“Baru kudapat surat tugasnya tadi siang. Sekarang aku harus mengambil tiket sendiri ke agen. Sekitar dua hari, tergantung bagaimana kondisi network di sana.” “Ya.., tapi hari minggu sudah di Makassar kan.?.”
“Saya usahakan, soalnya saya dapat undangan peresmian di galeri Balada.?”
“Saya tunggu deh…”
****
Seremoni di mulai, pesta kembang api memenihi ruang geleri, dan di atas panggungSanjaya berorasi terbentuknya Galeri ini, saya mengambil kursi di sudut remang bersama Aryanti dan temannya, tawa renyah aryanti menyemikan rasa cinta, berpeluk bayang kami, mengulas jejak dua hari berlalu di kota angin mamiri ini, tak terlihat lelah di raut wajah Aryanti, selama dua hari kami kelilingi kota Makassar.
Senja baru saja lenyap dan di atas panggung nampak wajah tak asing, Laura menuju podium, membacakan lembaran sambutan, menjelaskan dia sebagai pemilik Galeri Balada.
Laura telah mengemas suasana menjadi begitu etnik. Kulihat dinding teras galeri mungil itu dibuat dengan batu paras. BergayaArt dico rancanganku, Lantai batu alam membuat kesan natural lebih mendalam. Cahaya lampu sorot yang menyiram beranda langsung memperlihatkan wajahku, sehinggaLaura yang seperti telah kuduga sebelumnya, anggun dengan rambut terurai dan mengenakan kain kebaya ‘bodo’ khas Makassar, menoleh ke arahku. Senyumnya merekah. Aku melihat matanya berbinar
“Oke, teman-teman, para undangan dan wartawan, kekasih yang kutunggu ternyata sudah ada dari tadi disini, namun saya tak melihatnya, hamper saya menunda sambutanku, namun sangat cekatannya operator lampu sorot menemukan kekasih dan sahabatku. Sebab tanpa dia mungkin galeri ini saya akan buka secara simbolis, dengan hadirnya Mas Bayu Pratama saya akan buka rahasia, mengapa saya memilih nama Balada.., untuk itu dengan hormat mas Bayu untuk berdiri di samping saya.”
Aku agak kikuk, namun senyum Aryanti meleburkan resahku, dengan pelukan yang begitu mesra Aryanti berbisik
“Percaya kekuatan cinta kita sayang…., biarkan laura sebatas imaji menjadi milik mas Bayu, kenyataannya Mas tetap memilih saya kan..?”pesan Aryanti.
Sampai di panggung, Laura mengamit tanganku tidak merasa sungkan mencium bibirku. Dan entah kenapa, para wartawan itu begitu gemar dengan hal-hal yang berlangsung sebentar tetapi berdesir. Mereka memotret. Sejenak mataku silau.
Namun ketika pelukan Laura lepas dan aku mencoba mengitarkan pandangan, di antara pengunjung tak terlihat Aryanti di meja yang tadi saya duduki, masih terpengaruh oleh kilat lampu blitz, saya meninggalkan panggung, Laura yang cekatan dan mengusaikeadaan panggung melanjutkan pidatonya, kian menjengkelkan suasana hatiku.
Aryanti berdiri di tepian kolam, dengan tetes Kristal bening di mata wajahnya kian menunduk.
Didalam ruangan terdengar Laura berbicara “Nama Balada Galeri ini saya ambil dari singkatan ‘BAYU PRATAMA DAN LAURA DARMAWAN’ “ sorak hadirin pun semakin riuh, kian mengguncang pertahanan kesabaran Aryanti.
“Yanti…” aku memanggil. Namun sunyi, Aryanti meninggalkan kolam itu dan berlari diantara taman yang gelap.
Suara Laura kian sayup, detak tangis Aryanti semakin kurasakan, namun…, dimanakah dia…?
::::::::::::::::::::::::::::::
MK_Mamiri 2012
Bincang Metafora
Bincang Metafora Mahoni dan Mushola
Hikayat alam terberai di tiap lapak, merayap dari tiap pijakan jejak , dari bingkai suka dan duka terlafaskan. Setitik menahan isak tangis getah reranting yang mulai menunduk. Tiba-tiba angin dan petir membantah untuk menyudahi tetesan tangis reranting mahoni.
Gigir waktu menyisir almanat hari, mengikis bait-bait nostalgia dahan mahoni dan Mushola tua, tegak mahoni menghadap angkasa, darah cambium masih mengalir harmoni di setiap celah pikiran, itulah mahoni yang terkanvas di jelaga alam raya. Mungkin ada suatu saat, manusia tua enggan menyapa ketika mereka melintas di sisi mahoni ini.
Namun, sebelum itu. manusia muda, anak-anak, mereka sangat akrab dengan nuansa yang telah terkubur.
Erlangga dan Dina berlarian di bawah rerindang mahoni, tak berapa lama berdatangan mahasiswa tekhnik yang lainnya, membentuk lingkaran di bawah cungkup bangunan mushola, dan di kelilingi pohon mahoni, sedikit memberi kesujukan, dan menghindari dari jilatan mentari siang itu.
Tiap jedah siang menanti adzan dhuhur mushola itu mulai ramai dengan jejak langkah anak-anak yang hendak sholat berjama’ah dan belajar mengaji bersama seorang ustad yang sudah di tentukan pihak kampus, mengisi waktu senggang usai sholat duhur dan menanti jam belajar di mulai, tak terkecuali masing-masing angkatan. Pintu mushola, hamparan sajadah, reranting mahoni, sangat hafal wajah mahasiswa, tak tertinggal anak-anak dari warga kampung dekat mushopla itu memenuhi ruang mengaji di mushola itu. Selain mengaji mereka yang usia remaja mengkaji ilmu-ilmu agama, seakan mengalirkan kejernihan lautan ilmu yang telah lama ternoda.
Jika suasana senggang, Erlangga ketua Senat fakultas Arsitektur, dan Sekertaris BEM Universitas Dina Triastanti, sempatkan diri merawat mushola dan pekarangan, di bantu anggota HMI yang lainnya mempercantik taman, dengan memangkas reranting mahoni yang tidak teratur tumbuhnya.
“Ternyata ke akrapan kita dengan alam, membangkitkan rasa syukur pada sang Pencipta ya..?”ucap Dina pada Erlangga suatu siang saat mereka menunggu teman-teman yang lain hadir dalam rapat pembentukan RAD dan ADRT HMI.
“Yah.., begitulah, sama dengan kita…?”
“Kok kita mas…?”
“Iya kan…, saat kita merawat rasa cinta, rasa persahabatan, rasa ukhuwah, maka membangkitkan rasa syukur Pada sang Khaliq, Alangkah agung-Nya memberi akal, dan memberi pedoman hidup Al-Qur’an danm As-Sunnah”
“hemm…., mulai dech.., ngerayu.., uhuiii”
Waktu beranjak, hari berganti, tahun pun bergerak. Mahasiswa pun dari semester ke semester hantarkan mereka ke jenjang wisuda, tak terlepas Erlangga dan Dina Triastanti, beranjak dari setiap waktu, Mushola dan taman mahoni mereka tinggalkan, demi melanjutkan cita dan cinta mereka di era globalisasi.
Dinamika hari berterbangan di cakrawala dimensi, alam menghantar pada perubahan. Tak ada lagi jejak langkah Mahasiswa, jeritan ikhwan membaca Al-Qur’an, gemerisik air wudhu yang berirama dari arah Mushola sebagai siraman akar-akar mahoni tak mengalir lagi. Bersimbab derita reranting mahoni, sedih sajadah mushola yang merindukan pijakan lembut ‘pemakmur’ kalimat Allah, kini telah berhamburan debu, kusam kaca-kaca jendela, rapuh akar pepohonan mahoni, sebab tak pernah meminuh air sejuk yang tertetes dari wudhu sang pemakmur Kalamullah.
“ Akar-akarku sudah mulai rapuh dimakan usia. Mungkin dalam hitungan detik akansegera musnah dijilat bau-bau limbah pabrik , amis sisa kencing pengunjung diskotik yang mulai menjamur” keluh dedaunan mahoni pada kubah mushola
“Sajadahku, mimbarku hanya menjadi barang pajangan, AlQur’an di lemari ini pun hanya hiasan pelengkap, mungkin ini yang dinamakan ISLAM MODERN”balas keluh mushola pada suatu malam
“Mengapa manusia teramat bodoh, terbuai temaram bumi yang hanya semu ini”bisik anila malam
***
“Besok Mushola ini kita singkirkan saja, Pak. Biar kita dirikan gudang besar untuk menyimpan barang-barang bekas kampus”ucap Satpam pada seorang dosen yang berdiri dengan muka bengis melihat keadaan mushola, dan rimbunnya mahoni yang tak tertata lagi
Nampak kobaran anala amurka meluap-luap dari celah dahan mahoni mendengar rencana perubahan itu. Rasa tidak terima akan hal itu sangat membalut di seluruh sanubari reranting. Begitu pun dinding-dinding mushola memelas sedih, namun tak kuasa menyingkirkan pekatnya debu agar membuat tampilannya menjadi asri, kodrat sang Mushola dan Mahoni sebatas titipan_Nya di pendaran edar bumi.
Manja angin bermain mendayu
intari hari bergantungan mimpi
gigir waktu beranjak meranggas
ngarai usia tersisir edaran zaman
harus melepas mengalir tanpa amurka
adalah nyata titian titah Sang KhaliQ
Pelipur sayang membisik anila
hadirmu dalam remasan jemari waktu
mengahasilkan kisah cinta dan kisah duka
antara nyata dan fatamorgana, membilang bilanganMu
makhluk ada dan mengarunginya
Harus melupakan, terlupa
jubah malam memikat pekat
dentum halilintar merintih lirih
munajat padaMu hamparkan cita
Lerai renda helai demi helai
motif dewanggi indah menanti
kelabat bayang memadu fana
dimana cinta harus memeluk, saying
dari apa ketentuan sang KhaliQ
***
Harapan mahoni merayap bersama hembusan angin senja, memangkas hari yang kian berlari,
Keluh dedebuan di lantai mushola tak terdengar, kalah oleh dentuman music diskotik, rintih kenikmatan perempuan malam, tersingkirkan oleh kemilau mimpi insane di peradaban modern, terkubur dari globalisasi salah arah. Beranda Mushola penuh sesak akan carut-marut daun kering mahoni yang berguguran, yang tiap harinya hinggap menyentuh bumi. Mereka berkeluh kesah melihat tidak ada lagi warna Islam yang hadir pada Mushola yang dulu di Agungkan oleh Erlangga dan Dina, mungkin telah terkubur bersama cerita zaman.
“Rinduku padamu Erlangga”bisik Mimbar di mushola
“Dina…, Dina muda kemanakah lentik jemarimu di generasi ini”tangis reranting mahoni yang akan di tebang esok
Langganan:
Postingan (Atom)




